ibuku lapar. dia belum makan. sama, sih, aku juga. jadi aku tunda dulu nulisnya, ya…aku mau bikin telor dadar dulu buat aku dan ibuku. tadi ibuku udah beli telor sama indomie pas aku nonton anak-anak maen futsal. sekarang giliranku masak buat ibu. yah..harus aku akui: walaupun aku suka masak, “memasak” is definitely not my talent. i’m suck at it.
i’m suck both at cooking and act “normal”; especially in front of the boys.
or
“the boy”.
a little about this boy. dia sering sekali dijadikan umpan lambung ama anak-anak buat ngeledekin aku. mereka ketawa-tawa riang gembira tiada tara dengan joke-joke garing bergelimpangan serta bacot-bacot yang tanpa minyak rem. aku, sih, bodo amat. pada awalnya. ya abis….gimana lagi? that boy emang out of my list. ibarat tepung, doi termasuk yang grenjel-grenjel dan nyangkut di saringan.
tapi lelaki sangat muda ini ternyata amat sangat penuh energi. kayak gak peduli dicuekin, doi enjoy aja nabrak-nabrak dan sesekali secara frontal colongan, sampe akhirnya aku membuka gerbang komunikasi dan membiarkan the boy from tasikmalaya meraih mimpinya.
adikku semata wayang dan madam pada suatu kali kontan kebakaran jenggot. mereka dihantui pikiran bahwa aku juga akan merelakan harga diri dan masa depan diamuk energi masa muda. aku tau kekhawatiran ini beralasan, mengingat aku punya potensi tinggi terbawa suasana. let alone, perasaan. tapi saat itu, aku dengan tegas menolak asumsi kepagian mereka, karena aku cukup punya kesadaran, batasan, serta sedikit disiplin diri untuk tidak mengambil tindakan gegabah maupun menghembuskan angin surga ke inbox hapenya. cin….plis, deh.
tapi…ya, gitu, deh. suatu waktu aku terlibat pergumulan serius dengan the valkyries. pada bab second mind, aku serta merta menjadikan jamban dan bak mandi sebagai laboratorium. aku berusaha keras mengendurkan badan dan pikiran sambil mencoba berdamai kembali dengan diri sendiri. lalu secuil, sebuku, sejari, setangan, selengan, sebadan pikiran pelan-pelan menyongsong permukaan dan aku akhirnya mengenali apa yang bekerja paralel saat aku memikirkan “abis mandi pake baju apa”. ketebak memang. it’s him.
pertama-tama, aku menolak percaya. tapi setelah uji coba berikut dengan laboratorium dadakan lainnya, aku gak mau lagi melawan. percuma. denial is reversing the truth. so..akhirnya, aku memilih mengaku. di sana. di meja dengan indomie. dia yang mendengarkan, hanya tertawa dan mencoba memaklumi.
“well, vid…gue tau gue gak akan ama dia juga. gila apa gue? gue juga belum tentu mau ngejalaninnya. tapi, untuk saat ini, harus gue akui, dia ada di otak gue. ternyata gue mikirin dia. gue mungkin sayang ama dia, tapi ya udah. itu aja. gue gak tertarik untuk lebih jauh lagi. gue rasa, sih, gue tersanjung aja karena dia kayak gitu ama gue. i’ve been single for 7 years, vid. dan gue gak pernah diginiin ama cowo. gue rasa, ya, wajar kalo gue ngerasa begini”.
hah. aku jadi inget kata beberapa temenku yang tidak saling mengenal karena mereka juga beda tongkrongan anyway. entah kenapa, mereka semua bilang hal yang sama ama aku. “elo tuh galak. cowo-cowo takut ama elo”. (what the……)
seketika itu juga, segala teori-teori mereka terjun bebas ke dalam otakku tanpa parasut maupun tali pengaman. tercerai-berai mereka jatuh di dasar pemikiranku sedemekian rupa, sampai anggota CSI nomer wahid Amerika pun gak sanggup lagi mengidentifikasi serat tissue DNA-nya.
ya…aku emang galak. ku rasa. kenapa, ya? apa karena aku merasa insecure? atas apa? gak ngerti juga. galak yang tanpa alasan aku rasa. padahal aku itu paling takut nyakitin perasaan orang lain. males konflik. ogah debat. ngomong yang nyangkut kepentinganku sendiri ke menejer stasiun aja gak berani. kok bisa-bisanya aku dipredikatin galak? gak tau deh. aku bodoh juga buat urusan ginian.
sama kayak urusan bikin lagu. hah. aku jadi meragukan label “multi talenta” yang banyak ditempel orang-orang di jidat aku, karena ampe sekarang kita masih kurang 2 lagu lagi untuk sampai pada acara gunting pita. bagaimana bisa, sih, maestro-maestro di luar sana mencetak hits seperti mencetak ager-ager SD? sementara aku…4 presentasi, 1 jebol. 5 maju, 4 mundur. 1 didengerin, 1 dibuang. hah. rasanya seperti kehilangan seluruh jiwa raga. gimana lagi? musti apa lagi? kopi, ambil kunci, ambil 1 bar, ambil nada terakhir, memeras pengalaman sampai pada inti sari patinya yang mungkin cuma berukuran 2 baris. nah, lho. bagaimana 1 lagu?
enak-gak enak, busuk-jualan, ketinggian-merakyat, pelan-up beat…semua seperti stonehenge. berdiri tegak berformasi di puncak bukit. kapan aku memenuhi janji pada puncak gunung gede? katanya inspirasi gak perlu dicari. katanya inspirasi ada di sini? trus… di mana dia? mungkinkah dia lagi lapor pak RT karena dia berencana nginep lebih dari 2×24 jam?
ah. nginep. besok bakalan nginep di jalan lagi. 14 jam, mungkin lebih, aku ama anak-anak akan kembali mengukur jalan demi kawan-kawan di sragen. our last journey with our dear guitarist/founder/great friend of the band.
ck. mengingat dia adalah mengingat periode aku didewasakan oleh kehidupan, di mana aku berkesempatan untuk belajar, ujian, belajar, ujian, semester pendek, belajar, belajar, dan belajar. entah apa yang akan terjadi dalam hubungan aku dan dia nanti di depan setelah dia benar-benar tak ada lagi di atas papan bersama kita setelah sabtu besok.
waktu itu, ketika semua anggota orijinal menyatakan mundur, aku dan dia mengiyakan maju. sampai akhirnya kami masih ada di sini. aku masih ingat pas aku ama dia menyisihkan gaji kami yang gak seberapa dan nekat recording. segila itu kami pada musik kami dan segila itu pula kami mencari orang untuk posisi dia. dia sendiri, tidak akan tergantikan. seperti ibu akan selalu menjadi ibu. bapak akan selalu jadi bapak. anak akan selalu jadi anak. tidak ada mantan anak atau ibu atau bapak, tidak ada juga mantan dia. cuma dia yang punya passion terhadap ska, radio, kerupuk, ucus, angkringan, lawakan garing, dan my wife is a gangster 1-2-3.
aku kan sangat kehilangan dia. amat sangat. sebagai teman perjuangan, dia selalu ada dan pengertian. aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya meninggalkan impian dan kerja kerasnya selama ini. dia pasti sedih. tetapi hidup adalah soal memilih.
seperti aku memilih “jalan raya pos, jalan raya daendels” among other pramoedya’s books on the shelf. pertama kupikir aku akan menemukan cerita fiksi ala pak pram soal jalan daendels yang entah mengapa sudah lama menarik perhatianku. tapi ternyata, sejauh setengah buku, it’s even better than i’ve expected. aku seperti mendengar pak pram mendongengi aku soal jalan daendels dan apa yang terjad selama pembuatannya. lebih dari itu, aku juga merasa sedang membaca buku sejarah tanpa merasa besok harus ulangan. it’s so appealing sampai-sampai aku harus cari tau lebih lagi soal sejarah indonesia.
hehe..
entah apa hubugannya, yang jelas belakangan ini aku emang kebanyakan mikir. tapi tetep gak jelas juga mikirin apaan. aku seperti merasa sesuatu telah salah orbit, tapi aku juga gak bisa ngapa-ngapain. apalagi bisa tau apa yang salah orbit dan kenapanya. aku merasa susah banget buat menikmati hidup dan berkonsentrasi pada segala sesuatu yang ada di horisonku saat ini. setiap mau praktek “memperhatikan hal-hal 5 meter di hadapanku”, gak sampe 10 detik, aku udah gak di atas ojek lagi. pikiranku lebih cepat bergerak daripada cahaya. tapi giliran disuruh beride spontan, aku malah mati gaya.
kayak kalo tiba-tiba disuruh baca puisi. aku pasti mati gaya. dasarnya aku ini emang bencong kurasa. merasa ga banci tampil, tapi pekerjaannya semua sarana menjadi tampil banget. kalo aku tiba-tiba disuruh nyanyi di kawinan, misalnya, aku pasti langsung kabur pura-pura lagi sakit tenggorokan. kenapa aku begitu? jawaban deketnya: malu. jawaban tetangganya: takut diliatin orang, takut dibilang sok tampil, takut keliatan sok asik, takut dibilang katro ama orang. padahal, tepeng udah pernah bilang: what the fuck they say, what the fuck they say!
iya, ya…bener juga. sheila gold once juga pernah bilang ama aku:
“you can’t please everyone. and don’t try to please everyone. cause you can’t. it’s impossible”
benci mengakuinya, tapi ini emang bener. semua emang two sides of a coin. pasti akan ada orang yang ngefans ama kerjaanku dan pasti ada orang yang setengah mati pengen mengusir aku dari dunia saking bencinya dia ama kerjaan aku. all i gotta do is do what i gotta do the best i can. do it for myself. and not to please anybody.
aku emang harus menghargai diriku lebih lagi. adik, sahabat-sahabat, saudara se-band dan bungamatahari sudah berulangkali secara frontal menyatakan kalau aku telah keterlaluan. aku kelewatan menilai aku sebegitu rendahnya, padahal aku tau kalo aku gak mau dibilang begitu sama orang lain, aku pengen dibilang “bagus-bagusnya” ama orang lain.
ya. aku telah keterlaluan. aku telah melukai perasaanku sendiri karena aku terlalu tidak ingin melukai perasaan orang lain. aku telah menzolimi diriku karena aku menolak mengakui kemampuanku meskipun sebenernya aku sadar aku mampu. aku tidak percaya kata-kata “baik” tentang aku dari orang lain, karena aku pernah melakukan hal yang sama tanpa rasa tulus. i am suspicious, because i am suspicious for other people.
aku selalu melihat ke atas dan aku kecengklek karenanya. aku juga kesandung oleh diriku sendiri dan bukan orang lain yang telah dengan jujur menyampaikan apa yang mereka rasa dan pikirkan. haiz. ternyata masalah terbesarku adalah aku sendiri. aku yang telah menyerahkan seluruh hatiku pada kuasa asumsi dan rasa tak ingin kalah. aku benar-benar manusia biasa. lemah. walaupun aku tau, aku punya kekuatan, akal, pikiran, hati untuk tetap menjalani kehidupan. setiap orang memang punya kelebihan dan fungsinya masing-masing untuk hidup ini ternyata. gak mungkin kalo semua orang di dunia jadi pemain bola semua. wasitnya siapa? medic-nya siapa? yang nonton siapa? yang bikin bola siapa?
dan speaking about main bola, anak-anak tadi maen futsal lucu banget tadi. tawa berderai-derai seperti pelangi saat badai pergi. mudah-mudahan semua berolah jiwa tadi. ya..kami olah jiwa. lebih dari sekedar olahraga. kami kumpul-kumpul, gerakin badan, dan ketawa dalam jumlah yang ekstrim. dan semua itu, sehat untuk jiwa.
sementara yang lain bertukar-tukar fungsi demi formasi, aku memilih memfungsikan diriku sebagai fotografer instead of jadi kiper. selain harus menghadapi kenyataan bahwa aku memang tuna tendang, aku sedang mengumpulkan bahan untuk (sok-sokan ikutan) pameran foto barengan ama temenku anak UNJ dan temennya dia anak london. gaya banget, ya, mau sok-sok pameran? seniman kentang, fotografer ya jelas-jelas bukan! modal camera digital minjem ama kemampuan bikin cerita mau sok eksis di dunia seni. it’s norak.
but ….
apa neraka lah. cuek aja. embracing life also means taking risk without thinking too much. trust your instinct and let go off regret. katanya, yang terlintas pertama kali di dalam pikiranmu, itulah kata hati nurani. nurani oktavia maksudnya? aku gak terlalu percaya, sih, soalnya pikiran pertamaku itu sering salahnya daripada benernya. eh..tapi..jangan-jangan, hati nurani itu gak selalu bener, ya? yaaahh..inilah bedanya aku ama anak-anak (apalagi ama bos jangkrik). ketika mereka memikirkan hal-hal besar demi kelangsungan hidup bersama, aku memikirkan diriku sendiri. hal-hal kecil yang boleh di-pending kehadirannya di otak.
eh…aku udah kelar makan bareng ibu, nih. sekarang bisa lanjut nulis lagi. tadi aku udah nulis sampe mana, ya?